Menghibur Hati yang Sedih

27 11 2007

Bagaimana supaya hati kita tidak dirundung kesediahan dan

dapat menikmati kebahagiaan dengan tenang, berikut ini 4

(empat) kiat sederhana agar kita senantiasa dalam

kebahagiaan:

1. Jangan gantungkan hati kita pada dunia (makhluk)

 “Sesungguhnya dunia itu indah dan manis, dan Allah akan

menyerahkannya kepada kamu. Maka Dia akan melihat

bagaimana kamu berbuat kepadanya” (HR.Muslim). Ikatlah

hati kita untuk selalu mengingat Allah “…ingatlah hanya

dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram” (QS. Ar

Ra’d:28) Bila seseorang mampu menghindarkan hatinya dari

ketergantungan dunia, maka sesungguhnya itu adalah

kebahagiaan hakiki. Gemerlap dunia tidak membuat hati

menjadi sedih; mobil mewah, rumah megah dan lain-lain.

Tidak ada perhiasan dunia yang mampu membuat hati menjadi

sedih. Tidak ada bedanya ia bisa memiliki perhiasan itu

atau tidak memilikinya, hatinya tetap bahagia

2. Siap untuk miskin dan tidak lupa pula untuk siap kaya.

 Rasulullah saw bersabda “lihatlah orang yang di bawahmu,

dan jangan melihat orang yang diatasmu. Karena demikian

itu lebih tepat, supaya kamu tidak meremehkan ni’mat

karunia Allah kepada kamu” (HR Bukhari Muslim). Menjadi

kaya adalah harapan umumnya orang, tapi tidak semua orang

mendapatkan nasib baik, sehingga ia menikmati kekayaan.

Ketika kita sudah terlatih dan sukses menjalani hidup

dalam keadaan yang “tidak kaya” dalam arti kekurangan

harta, tetapi hatinya kaya akan kebaikan, maka kita juga

harus mempersiapkan hati kita jika suatu ketika Allah

memberi amanah kelebihan harta. Kita tetap melakukan

kebaikan dan tidak lupa bahwa kekayaan itu adalah milik

Allah.

3. Jangan Takut Melawan Cobaan. “Dan sesungguhnya akan

kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,

kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS.

Al Baqorah:155). Orang takut ketika menerima cobaan dan

mengharap agar cobaan tidak datang menimpanya, tetapi

sudah menjadi sunnatullah setiap kita akan menerima cobaan

itu. “Tiap-tiap ummat mempunyai cobaan dan ujian

sendiri-sendiri” (HR. At Tirmidzi). Wajar kita merasa

sedih dan mungkin terkejut dengan datangnya cobaan, tetapi

jangan sampai kesedihan itu berlarut-larut sehingga kita

tidak mempunyai semangat untuk segera keluar dari cobaan

itu. Lakukan tindakan untuk mengakhiri cobaan yang ada.

“Bekerjalah! nanti Allah, rasulNya dan orang-orang mukmin

yang akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At Taubah:105).

4. Silaturahim. Menceritakan kesedihan yang kita alami

kepada orang-orang mukmin yang kita percaya sebagai upaya

untuk berbagi dan meminta nasehat jalan keluar dari

kesedihan, dapat kita lakukan. “Barang siapa yang melawat

orang sakit atau ziyarah kepada Sahabatnya karena Allah,

maka selamatlah perjalananmu dan selamat menjadi pribumi

di surga” (HR. At Tirmidzi). Jika Allah menghendaki, dari

silaturahim yang kita lakukan maka akan kita temukan

solusi permasalahan yang membuat hati kita sedih. “Barang

siapa ingin dilapangkan rizkinya dan ditunda umurnya

(ajalnya) hendaknya menyambung silaturrahim” (HR. Bukhari

Muslim).


Actions

Information

Leave a comment